Portalborneo.id, Samarinda – Banyaknya pemuda yang mulai sadar akan pentingnya kemandirian finansial menjadi angin segar bagi bangsa terutama untuk Provinsi Kalimantan Timur. Demikian disampaikan Analis Kebijakan Bidang Pengembangan Pemuda Dispora Kaltim, Rusmulyadi.
“Kami di Dispora memfasilitasi namun belum sampai pada monitoring, tetapi sejauh ini rata-rata pemuda yang diberikan penguatan oleh Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dispora banyak yang mengkonfirmasi langsung bahwa mereka sedang menuju pada kemandirian finansial,” kata Rusmulyadi saat diwawancarai awak media setelah terselenggaranya pelatihan penguatan ekonomi dan tata kelola organisasi yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim di Hotel Verona Samarinda, diikuti 60 peserta dari 15 organisasi kepemudaan.
Ia mengatakan, tentu ini sejalan dengan harapan Pemprov Kaltim yang ingin terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) generasi muda sebagai bagian dari investasi strategis daerah.
Menurutnya, komitmen Pemprov Kaltim tersebut merupakan pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan kemandirian daerah.
Rusmulyadi, menyebut materi pelatihan difokuskan pada manajemen ekonomi kreatif, kewirausahaan sosial, dan tata kelola organisasi berbasis kemandirian finansial. Menurutnya, pelatihan didesain untuk mengubah pola pikir lama organisasi pemuda yang kerap bergantung pada proposal dan bantuan pemerintah.
“Kemandirian ekonomi di organisasi itu lebih menarik dan lebih penting bagi teman-teman organisasi pemuda. Selama ini kebiasaan yang berkembang adalah mengajukan proposal untuk mengikuti kegiatan. Itu sudah terjadi dari dulu,” ujarnya.
Dispora Kaltim tentu ingin mendorong kemandirian itu dengan memberikan bekal keterampilan praktis. Rusmulyadi—akrab disapa Rusmul—menjelaskan peserta diajarkan mengelola event organizer (EO), mulai dari perencanaan acara, manajemen produksi, hingga peluang monetisasi.
“Kami ajari mereka bagaimana mengelola event. Nanti kalau ada kegiatan, mereka bisa ikut terlibat dan menghasilkan uang untuk organisasi. Selama ini ada yang masuk organisasi karena ingin ‘hidup dari organisasi’, sekarang kita ubah: mereka harus datang untuk menghidupi organisasi,” jelasnya.
Organisasi besar seperti PMII, FKP, dan sejumlah OKP lainnya turut berpartisipasi. Ke depan, keterampilan ini diharapkan melahirkan peluang ekonomi kreatif baru. “Bisa jadi nanti mereka membangun EO sendiri, entah EO PMII, EO Pemuda Muhammadiyah, atau EO dari organisasi lain. Yang penting organisasi-organisasi ini bisa mandiri secara ekonomi,” tambahnya.
Rusmulyadi juga mengingatkan risiko ketergantungan pada proposal, terutama saat keuangan daerah menghadapi efisiensi akibat pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH). “Kalau mereka terus bergantung pada proposal, sementara ke depan DBH Kaltim dipotong dan anggaran pemerintah ikut terpangkas, bagaimana organisasi mau bertahan? Karena itu mereka harus berinovasi,” tegasnya.
Lebih jauh, Rusmul menegaskan bahwa pelatihan ini berjalan searah dengan program unggulan Jospol, yang menekankan ekonomi inklusif berbasis kreativitas dan digital, serta memperkuat UMKM dan ekosistem ekonomi muda. Kegiatan ini juga mendukung semangat Gratispol, di mana seluruh pembinaan pemuda diberikan tanpa biaya sehingga semua organisasi bisa mendapat akses setara.
Rusmulyadi menambahkan, data pemuda kaltim yang telah mendapatkan pelatihan oleh Dispora dapat diakses pada web link: talent.gosepakat.id
Tim Redaksi/7/Riska/ADV/Diskominfo/Kaltim

