Lahan Suboptimal Dominasi Kaltim, Diversifikasi Hortikultura Arah Baru Penguatan Pangan

keterangan foto sayuran istimewa oleh dekoruma.com

Portalborneo.id, Samarinda – Kalimantan Timur (Kaltim)  diproyeksikan memasuki fase penting dalam pengembangan pertanian setelah berbagai kajian menunjukkan bahwa sebagian besar wilayahnya berada pada kategori lahan suboptimal. Kondisi tanah yang cenderung asam, tidak merata, hingga perubahan struktur lahan akibat aktivitas industri diperkirakan mendorong pemerintah daerah menyusun strategi baru untuk memperkuat sektor hortikultura berbasis kecocokan lahan.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Kosasih, menegaskan bahwa status Kaltim sebagai daerah suboptimal membuat pendekatan pertanian tidak bisa disamaratakan seperti wilayah lainnya.

“Kaltim ini unik. Tanahnya mayoritas asam, terutama di pesisir dan dataran rendah. Kita tidak bisa berharap komoditas unggulan dari Jawa atau daerah lain langsung berhasil di sini. Harus lihat karakter tanahnya dulu,” jelas Kosasih.

Berita Lainnya:  Targetkan Kemenangan Diatas 70 Persen, Isran Masih Rahasiakan Proker Spesifik: Takut Ditiru!

Ia menjelaskan bahwa kondisi tanah suboptimal bukan berarti tidak bisa produktif, tetapi membutuhkan strategi khusus. Karena itu, setiap wilayah di Kaltim memiliki komoditas unggulan yang berbeda. Di Kutai Barat, durian dan jeruk nipis tumbuh lebih stabil dibanding daerah lain.

Komoditas lay berkembang di sejumlah titik Kubar dan Kukar, sementara nanas yang dulu mendominasi Samboja kini bergeser ke Kutai Timur karena tekanan lingkungan dan perubahan kualitas tanah.

“Nanas itu contoh paling mudah. Dia sensitif. Kalau tanah terlalu asam, hasilnya mengecil, rasanya berubah. Makanya sekarang banyak petani pindah tanam ke Kutai Timur, khususnya di Hima Lestari,” ujar Kosasih.

Berita Lainnya:  Isran Noor Janji Perjuangkan Kenaikan Tunjangan TPP Guru PPPK

Lahan suboptimal di Kaltim juga memberikan kejutan positif. Salah satunya di Long Kali, lokasi yang sebelumnya dianggap kurang ideal justru berhasil memproduksi anggur.

“Ini bukti bahwa meski tanah kita asam, ketika cocok dengan iklim dan struktur tanahnya, tanaman bisa berkembang. Di Samarinda anggur tidak berbuah, tapi di Long Kali malah hasilnya bagus,” tambahnya.

Benua Etam diperkirakan akan menjadikan isu lahan suboptimal sebagai dasar penyusunan kebijakan hortikultura jangka panjang. Langkah-langkah strategis yang diproyeksikan mencakup pemetaan rinci tingkat keasaman tanah per kecamatan, penerapan pengapuran skala luas, rekayasa bahan organik untuk memperbaiki struktur tanah, hingga pembangunan teaching farm yang berfokus pada adaptasi tanaman hortikultura di tanah suboptimal.

Berita Lainnya:  Sekda Kaltim Sri Wahyuni Ikuti Rakornas Pengelolaan BMD 2024 di KPK

Menurut Kosasih, strategi ini bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga menjadi langkah penting mencegah ketergantungan Kaltim pada satu jenis komoditas seperti sawit. Dominasi sawit di lahan suboptimal justru memperburuk kualitas tanah dan berkontribusi pada meningkatnya risiko banjir.

“Kalau sawit semua, air tidak terserap. Akar sawit tidak kuat menahan aliran air. Makanya banjir makin sering terjadi. Kita perlu pohon buah yang punya akar tunjang kuat,” tegasnya.

Dengan pendekatan berbasis karakter lahan suboptimal ini, Kaltim diperkirakan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. Upaya diversifikasi hortikultura menjadi harapan baru agar pertanian Kaltim lebih adaptif, produktif, dan responsif terhadap tantangan ekologis masa depan.

Tim Redaksi/29/Riska/ADV/Diskominfo/Kaltim

...

Bagikan :

Email
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
[printfriendly]

terkait

.