Portalborneo.id, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menegaskan kembali posisi strategis pemuda sebagai motor utama pembangunan daerah, terutama menjelang agenda besar Kaltim pada 2026.
Hal itu ditegaskan Kabid Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya, Agama dan Ormas Kesbangpol Kaltim, Tri Atmaji dalam forum kepemudaan yang melibatkan organisasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Samarinda.
Dalam kegiatan yang dibuka sebagai ruang konsolidasi gagasan dan penyusunan arah gerak organisasi, perwakilan Pemprov menekankan bahwa generasi muda tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi atau pengamat perubahan.
Mereka harus tampil sebagai inovator yang memproduksi gagasan, solusi, dan nilai baru bagi masyarakat.
“Pemuda harus menjadi subjek informasi dan pencipta inovasi. Itulah esensi katalis pembangunan berkelanjutan,” tegas Ari Atmaji saat memberikan arahan di kegiatan pembukaan KSL GMKI Cabang Samarinda.
Pemprov memandang organisasi kemahasiswaan sebagai mitra strategis pemerintah daerah.
Di tengah dinamika sosial dan ekonomi Kaltim, peran mahasiswa dinilai semakin penting bukan hanya untuk mengkritisi kebijakan, tetapi juga mengambil bagian dalam implementasi program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Kesbangpol menyebut sedikitnya lima ruang kontribusi yang perlu diperkuat oleh pemuda dalam waktu dekat. Pertama, memperluas literasi digital ke lingkungan kampung, pesisir, dan komunitas marginal, terutama guna memperkecil kesenjangan akses teknologi yang masih dirasakan masyarakat.
Kedua, memperkuat gerakan keberlanjutan dengan fokus pada pengurangan sampah, pemulihan lingkungan, dan edukasi perubahan iklim. Ketiga, memacu ekonomi kreatif sebagai ruang tumbuhnya lapangan kerja baru berbasis gagasan dan kreativitas anak muda.
Keempat, memperkuat moderasi beragama demi menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat Kaltim. Kelima, meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam riset, pengkajian, dan advokasi kebijakan berbasis data.
“Pemuda adalah pilar moral dan motor perubahan sosial. Mereka harus berani melangkah keluar dari aktivitas internal organisasi dan hadir langsung di tengah masyarakat,” ujarnya.
Kaltim pada 2026 akan berhadapan dengan sejumlah tantangan besar, mulai dari penyesuaian transfer ke daerah, transisi ekonomi pasca-SDA, hingga semakin berkembangnya Ibu Kota Nusantara yang menciptakan pusat mobilitas baru.
Selain itu, percepatan digitalisasi dan peningkatan daya saing SDM menjadi kebutuhan mendesak.
Menurut Kesbangpol, seluruh tantangan tersebut tidak cukup dijawab oleh pemerintah saja. Dibutuhkan kolaborasi lintas institusi, termasuk energi dan kreativitas pemuda.
Ia juga mendorong seluruh peserta forum agar merumuskan program kerja yang realistis, berdampak, dan tidak berhenti pada agenda seremonial.
“Gunakan forum ini untuk berdiskusi jujur. Buat program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” pesannya.
Di akhir sesi, perwakilan Pemprov kembali mengingatkan agar mahasiswa menjaga integritas, merawat persatuan, dan menggunakan pengetahuan sebagai alat pelayanan.
“Teruslah menjadi garam dan terang di mana pun kalian ditempatkan,” pungkasnya.
Tim Redaksi/33

