Peningkatan Kasus HIV/AIDS di Kutim Jadi Momentum Pemutusan Rantai Penularan

Portalborneo.id, Kutai Timur – Data terbaru dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menunjukkan peningkatan signifikan kasus HIV/AIDS. Tercatat, hingga Agustus 2025 lalu, ditemukan sebanyak 104 kasus baru HIV, sebuah angka yang memerlukan perhatian serius dari otoritas kesehatan setempat.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur, Sumarno, mengungkapkan bahwa Kecamatan Sangatta Utara menjadi wilayah yang paling mendominasi kasus ini. Kondisi ini tidak terlepas dari status Sangatta Utara sebagai area dengan kepadatan penduduk tertinggi di Kutai Timur.

Meskipun terjadi peningkatan kasus, Sumarno memiliki pandangan yang berbeda terkait temuan angka yang tinggi. Ia justru beranggapan bahwa tingginya kasus yang terdeteksi menunjukkan adanya dampak positif, yaitu semakin banyak masyarakat yang menyadari status kesehatan mereka dan bersedia mencari pengobatan.

Berita Lainnya:  Sinergi Pemerintah dan Swasta, Disnakertrans Kutim Berdayakan Perempuan Transmigran

Penemuan kasus yang tinggi dinilai sebagai langkah awal yang baik dalam upaya pengendalian penyakit. Pengakuan dan kesediaan berobat dari pasien merupakan kunci untuk menghentikan penyebaran virus.

“Sebenarnya kalau HIV banyak ditemukan malah bagus, cepat memutus mata rantai kan, sama halnya dengan kasus penyakit TBC, sebab, penyakit ini orang tidak mau periksa lalu jajan kemana-mana dan menularkan HIV,” ucapnya beberapa waktu lalu.

Situasi penanganan HIV saat ini jauh berbeda dengan masa lalu. Kemajuan medis memungkinkan HIV untuk diobati dan dikendalikan, bukan lagi menjadi vonis mati. Pengobatan dilakukan menggunakan obat khusus yang wajib diminum secara rutin.

Berita Lainnya:  Mega Proyek Infrastruktur Kutim: PUPR Usulkan 20 Paket Lebih MYC Senilai Rp 2,1 Triliun

Dinas Kesehatan Kutim tidak hanya menyediakan obat, tetapi juga menyiapkan tim khusus untuk pendampingan. Saat ini, Dinkes memiliki tujuh orang penyuluh HIV yang bertugas memberikan edukasi intensif dan pendampingan psikososial kepada para penyintas HIV.

Sumarno mengakui bahwa fokus program Dinkes saat ini adalah menumbuhkan keyakinan di tengah masyarakat terkait efektivitas pendampingan dan pengobatan penyakit HIV. Pendekatan ini bertujuan menghilangkan stigma negatif yang kerap menyelimuti penyintas.

“Lebih jauh, ia mengaku program Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur meyakinkan kepada masyarakat terkait pendampingan penyakit HIV dan pengobatannya,” imbuhnya.

​Dalam upaya memutus rantai penularan, Dinkes Kutim menerapkan strategi penyuluhan yang sangat ekstensif. Penyuluh HIV secara aktif berkeliling ke berbagai lokasi, dari lingkungan pendidikan hingga tempat hiburan.

Berita Lainnya:  Syarat Ketat Diberlakukan untuk Sekolah Kutim Menjadi Rujukan Google

​Sasaran penyuluhan di sekolah adalah untuk menanamkan pemahaman dini tentang HIV, sementara di tempat hiburan malam (THM) bertujuan untuk menjaring populasi berisiko tinggi. Harapannya, pengetahuan yang memadai akan mencegah praktik hubungan seksual bebas yang menjadi jalur utama penularan.

​Selain penyuluhan, Dinkes juga aktif melakukan penjaringan dan pemeriksaan di populasi berisiko. Proses ini dilakukan secara berlapis untuk memastikan hasil yang akurat.

“Kita juga melakukan penjaringan, misalnya sopir-sopir atau orang yang ada di hiburan malam dilakukan pemeriksaan sebanyak 3 kali dengan alat berbeda,” tandasnya. (ADV)

...

Bagikan :

Email
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
[printfriendly]

terkait

.