Dinkes Kutim Rekrut Penyintas HIV Sembuh Jadi Kader untuk Edukasi dan Pendampingan

Portalborneo.id, Kutai Timur – Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memasuki babak baru dengan pendekatan yang lebih humanis dan berbasis komunitas. Hal ini dilakukan menyikapi temuan 104 kasus baru HIV per Agustus 2025 yang dilaporkan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD).

​Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, Sumarno, menjelaskan bahwa penanganan kasus HIV saat ini difokuskan pada pemutusan mata rantai penularan secepat mungkin. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan memastikan setiap kasus yang terdeteksi segera ditangani.

​Pengobatan untuk HIV kini sudah tersedia dan efektif, yaitu berupa obat khusus yang harus dikonsumsi secara teratur. Dinkes Kutim juga menjamin adanya pendampingan komprehensif bagi setiap penyintas, didukung oleh tujuh orang penyuluh HIV yang siap memberikan edukasi dan dukungan moral.

Berita Lainnya:  Rendi Solihin Bersyukur El Nino tak Berdampak Signifikan Terhadap Pertanian di Kukar

​Strategi Dinkes Kutim adalah menanamkan keyakinan bahwa HIV dapat diobati dan dikendalikan, sehingga tidak ada lagi pasien yang takut untuk memeriksakan diri. Sumarno menekankan bahwa deteksi dini sangat vital.

“Sebenarnya kalau HIV banyak ditemukan malah bagus, cepat memutus mata rantai kan, sama halnya dengan kasus penyakit TBC, sebab, penyakit ini orang tidak mau periksa lalu jajan kemana-mana dan menularkan HIV,” jelas Sumarno, Rabu (19/11/2025)

Program pendampingan yang dijalankan Dinkes bertujuan untuk meyakinkan masyarakat mengenai pentingnya penanganan dini dan kepatuhan dalam pengobatan. Kesediaan pasien untuk berobat merupakan langkah terpenting dalam membatasi penyebaran virus.

Berita Lainnya:  Bunda PAUD Kukar Gelar Road Show di Kota Bangun, Ajak Anak-Anak Lebih Semangat Belajar

​Untuk mengintensifkan edukasi, penyuluh HIV Kutai Timur menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Mereka secara rutin mendatangi sekolah-sekolah untuk pencegahan, serta tempat-tempat hiburan malam (THM) yang dianggap sebagai wilayah dengan risiko penularan yang lebih tinggi.

​Tujuan utama dari penyuluhan ini adalah meningkatkan kesadaran publik agar menjauhi praktik hubungan seksual bebas, sehingga rantai penularan HIV dapat dihentikan. Sumarno menambahkan bahwa program ini adalah prioritas.

“Lebih jauh, ia mengaku program Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur meyakinkan kepada masyarakat terkait pendampingan penyakit HIV dan pengobatannya,” terangnya.

​Selain edukasi, Dinkes juga menjalankan program penjaringan aktif. Penjaringan ini menyasar kelompok-kelompok berisiko tinggi seperti sopir dan orang-orang yang bekerja di tempat hiburan malam, melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan yang ketat.

Berita Lainnya:  Muara Badak Siap Jadi Sentra Hilirisasi Industri Rumput Laut di Kukar

​Pemeriksaan dilakukan sebanyak tiga kali menggunakan alat yang berbeda untuk memastikan hasil yang akurat. Setelah terbukti positif, penderita HIV segera di- screening untuk mengetahui dengan siapa saja mereka berkontak langsung, dilanjutkan dengan pendampingan dan pengobatan.

​Inovasi paling menonjol dari Dinkes Kutim adalah merekrut para penyintas HIV yang telah berhasil menjalani pengobatan dan sembuh menjadi kader HIV. Kader-kader ini bertugas memberikan edukasi langsung dan membangun harapan di masyarakat.

“Mereka menyampaikan bahwa bisa sembuh dari HIV, pas penyuluhan kita bawa kadernya dan menyampaikan pengalamannya itu,” tutupnya. (ADV).

...

Bagikan :

Email
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
[printfriendly]

terkait

.