Kutim Perangi Stunting dari Hulu, Remaja Putri Jadi Sasaran Awal Pencegahan

Portalborneo.id, Kutai Timur — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat strategi pencegahan stunting melalui pendekatan hulu dengan memulai intervensi sejak masa remaja. Langkah ini ditempuh karena pemerintah daerah melihat bahwa perbaikan kualitas generasi tidak dapat dilakukan hanya pada fase balita, tetapi harus dimulai jauh sebelum kehamilan terjadi.

Menurut Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, pencegahan stunting hanya akan efektif apabila kesehatan calon ibu dipersiapkan sejak dini.

Hal inilah yang menjadi dasar perubahan pola intervensi, dari sebelumnya berfokus pada bayi dan balita menjadi dimulai sejak remaja.

Pendekatan ini diyakini mampu mengurangi risiko kehamilan dengan gangguan gizi dan meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang.

Berita Lainnya:  Sengketa Jasa Pandu Tunda Kapal Batu Bara di Muara Muntai Masuki Babak Mediasi dan Pemeriksaan Legalitas

Plt Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, menyampaikan bahwa kesehatan remaja putri adalah fondasi dalam mencegah kelahiran generasi yang berisiko mengalami stunting.

“Remaja putri harus sehat terlebih dahulu agar ketika memasuki masa kehamilan tidak mengalami kekurangan gizi. Pemberian tablet tambah darah adalah langkah awal yang sangat penting,” terangnya.

Setelah memasuki fase kehamilan, pendampingan diberikan secara lebih intensif melalui edukasi gizi, pemeriksaan kesehatan rutin, dan pemantauan perkembangan janin.

Langkah ini bertujuan memastikan ibu hamil tidak mengalami kekurangan nutrisi yang dapat berpengaruh pada pertumbuhan otak dan fisik bayi.

Berita Lainnya:  Membanggakan, Kampung Payung-Payung Berau Masuk Kategori Desa Wisata Nasional

Ibu dibimbing untuk memberikan nutrisi optimal kepada bayi melalui ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI yang tepat sesuai kebutuhan tumbuh kembang.

Tenaga kesehatan juga memberikan edukasi mengenai pentingnya kebersihan, pola tidur, dan perhatian stimulasi perkembangan anak sejak dini.

Program pencegahan stunting di Kutim dipadukan dengan pemantauan pertumbuhan balita melalui kegiatan rutin di Posyandu dan Puskesmas.

Ketika ditemukan balita dengan indikasi risiko keterlambatan pertumbuhan, intervensi gizi diberikan sedini mungkin agar perkembangan otak dan fisik tetap optimal.

Sumarno menegaskan bahwa penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah dampak jangka panjang.

Berita Lainnya:  Karang Taruna Ambil Peran, Festival Ramadan Maluhu Jadi Ajang Edukasi Religi

“Intervensi dini ini tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga mempengaruhi perkembangan otak dan kecerdasan anak, artinya, kualitas hidup dan masa depan mereka ikut ditentukan,” jelasnya.

Melalui strategi berbasis pencegahan sejak hulu ini, Dinkes Kutim berharap dapat memutus mata rantai stunting secara bertahap dan berkelanjutan.

Pemerintah daerah menargetkan agar generasi Kutim ke depan tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan mampu bersaing dalam era pembangunan yang semakin kompetitif. (ADV)

...

Bagikan :

Email
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
[printfriendly]

terkait

.