
Portalborneo.id, Kutai Timur – Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kabupaten Kutai Timur, Roma Malau, menekankan pentingnya kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) di kalangan mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.
Menurutnya, era industri saat ini menuntut institusi pendidikan tinggi untuk berbenah diri.
Fokus utama kampus tidak lagi hanya mengacu pada pemberian ijazah semata. Namun, harus bergeser untuk mencetak lulusan yang betul-betul memiliki kompetensi atau keahlian yang relevan dan dibutuhkan secara praktis oleh dunia kerja dan industri.
Dalam diskusi yang menyoroti kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri, Roma Malau menjelaskan bahwa tujuan utama setiap perusahaan adalah mencapai manfaat atau keuntungan. Oleh karena itu, lulusan yang direkrut harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi keuntungan tersebut.
Untuk mencapai hal tersebut, Universitas Mulawarman mengemban tanggung jawab besar untuk membekali mahasiswanya dengan tiga pilar penting. Pilar tersebut meliputi knowledge (pengetahuan), sikap atau emosional, dan spiritual atau perilaku/etika.
”Mahasiswa sebagai individu tidak boleh hanya memiliki knowledge (pengetahuan) dan mengabaikan sisi emosional, ketika mahasiswa tidak bisa menguasai emosional, ia pun tidak jadi apa-apa,” jelas Roma.
Selain aspek kognitif dan emosional, Roma Malau juga menyinggung aspek spiritual atau etika sebagai pondasi krusial yang harus dimiliki mahasiswa. Aspek ini dicontohkan melalui perilaku sehari-hari, termasuk hubungan yang erat dengan Tuhannya atau ibadah.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa kurikulum perkuliahan di kampus wajib berfokus pada kompetensi spesifik yang dibutuhkan oleh industri, bukan sekadar teori umum. Pergeseran fokus dari “sekadar ijazah” menjadi “bukti kompetensi” menjadi keharusan di era persaingan tenaga kerja yang ketat.
”Kurikulum di perguruan tinggi harus dirancang agar mahasiswa tidak hanya belajar teori selama 4 tahun, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktis yang memadai,” imbuhnya.
Roma Malau secara spesifik memberikan dukungan penuh terhadap implementasi program magang yang terstruktur dan mendalam bagi mahasiswa. Ia mengusulkan skema magang yang tidak biasa, namun lebih aplikatif.
Skema yang didukungnya adalah magang penuh selama 3 bulan di perusahaan, dilanjutkan 1 bulan kembali ke kampus untuk analisis, pengaplikasian teori, dan sesi sharing bersama dosen. Siklus ini kemudian diulang untuk pendalaman materi.
”Lalu kembali lagi ke perusahaan untuk perbaikan dan pendalaman, sehingga program magang bisa dilakukan selama 6 bulan, tujuannya agar setelah magang, mahasiswa dapat memiliki sertifikat kompetensi di bidang keahliannya,” pungkasnya. (ADV)

