Labkesda Kutim Raih Akreditasi Utama, Berpotensi Tingkatkan PAD Meski Minim Peminat

Portalborneo.id, Kutai Timur – Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Kutai Timur, yang berlokasi di Jalan A.W. Syahranie, Sangatta Utara, telah mencapai prestasi signifikan dengan menyandang status akreditasi utama. Pencapaian ini menegaskan kualitas dan kapabilitas fasilitas kesehatan tersebut.

Status akreditasi utama ini diperoleh Labkesda Kutim sejak tanggal 25 September 2024 lalu. Status tersebut mengindikasikan bahwa fasilitas laboratorium telah memenuhi sebagian besar standar akreditasi yang ditetapkan, dan hanya tinggal selangkah lagi menuju predikat akreditasi paripurna.

Labkesda Kutim pernah berada di puncak popularitasnya selama masa pandemi Covid-19. Saat itu, laboratorium ini memainkan peran vital sebagai pusat pelayanan diagnostik dan pengujian swab PCR yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Kutai Timur.

Berita Lainnya:  Kukar Ajukan Raperda Pembentukan 7 Desa Baru, Dorong Pembangunan dan Pelayanan Publik Lebih Dekat

Namun, seiring berakhirnya pandemi Covid-19, euforia pemanfaatan Labkesda mulai meredup. Kini, jumlah peminat yang datang untuk mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan cenderung berkurang. Kepala UPT Labkesda Kutim, Gregorius Gebo, berharap fasilitas ini kembali menjadi rujukan utama.

“Ini akan jauh lebih bermakna jika masyarakat dan perusahaan di Kutim menjadikan Labkesda sebagai laboratorium rujukan utama,” ujarnya.

Gregorius Gebo menilai bahwa Labkesda Kutim memiliki potensi besar untuk berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Potensi ini bisa terwujud jika sektor swasta dan korporasi memanfaatkan layanan yang tersedia.

Berita Lainnya:  Adanya Aplikasi Sisters Diluncurkan Pemkot Samarinda, Jasno Berikan Dukungan

Peningkatan PAD dapat dicapai apabila perusahaan-perusahaan di Kutai Timur menjadikan Labkesda sebagai tempat rujukan untuk berbagai pemeriksaan. Ini termasuk pemeriksaan kesehatan berkala bagi karyawan maupun uji kualitas lingkungan kerja mereka.

Di balik pencapaian akreditasi utama, Labkesda Kutim menghadapi tantangan serius dari sisi sumber daya manusia (SDM). Jumlah tenaga analis kesehatan yang tersedia saat ini jauh dari kebutuhan standar operasional.

“Selain itu, tenaga analis kesehatan di Labkesda Kutim hanya tersedia empat orang, padahal standarnya minimal ada 16 analis yang melayani laboratorium itu,” imbuhnya.

Tantangan lain yang turut menjadi penyebab minimnya peminat adalah aksesibilitas menuju lokasi Labkesda itu sendiri. Jalan masuk yang terletak sebelum kanal 3 tersebut masih mengalami kendala infrastruktur.

Berita Lainnya:  Konsep Revitalisasi Pasar Pagi Masih Abu-abu, DPRD Samarinda Minta Kejelasan

Saat musim hujan tiba, akses jalan masuk menuju Labkesda seringkali menjadi licin dan berlumpur karena belum adanya semenisasi atau pengerasan. Kondisi jalan ini jelas menjadi penghalang dan menyulitkan masyarakat yang hendak melakukan pemeriksaan kesehatan.

Oleh karena itu, perbaikan infrastruktur jalan menjadi kebutuhan mendesak untuk menunjang peningkatan pelayanan publik dan optimalisasi Labkesda.

“Harapannya ada peningkatan akses jalan menuju Labkesda ini, sebab jalan licin dan berlumpur menyulitkan masyarakat untuk periksa kesehatan disini,” tandasnya. (ADV)

...

Bagikan :

Email
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
[printfriendly]

terkait

.