Kaltim Dilirik Investor Energi, Pengembang PLTSA Berebut Masuk

Caption: Ilustrasi foto PLTSA oleh Istimewa

Portalborneo.id, Samarinda – Dorongan Kalimantan Timur untuk masuk lebih jauh ke sektor energi baru terbarukan (EBT) mulai menunjukkan hasil.

Wakil Gubernur Kaltim, Ir. H. Seno Aji, mengonfirmasi bahwa sejumlah investor luar negeri maupun nasional kini aktif menawarkan proyek-proyek energi bersih kepada pemerintah provinsi.

Tidak hanya berbasis kelapa sawit, peluang investasi juga mengarah pada teknologi pemanfaatan sampah menjadi energi listrik.

Menurut Seno, potensi ini terlihat jelas dari masuknya tiga perusahaan yang menawarkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) di beberapa kota besar di Kaltim.

Ketiganya disebut sudah menyampaikan konsep awal dan skema kerja sama yang dinilai sangat kompetitif, termasuk pembagian pendapatan yang bisa menambah pundi-pundi PAD.

Berita Lainnya:  Pemanfaatan Dana Desa Menunjang Ketahanan Pangan

“Sekarang tren investasi yang paling kuat masuk ke kita justru PLTSA. Ada tiga pengembang yang sudah menyodorkan proposal. Mereka membawa teknologi berbeda, tetapi semuanya menjanjikan kontribusi PAD yang cukup besar,” kata Seno.

Ia menjelaskan bahwa ketertarikan investor terhadap sektor PLTSA sejalan dengan kebutuhan Kaltim terhadap solusi pengelolaan sampah jangka panjang.

Kota-kota seperti Samarinda, Balikpapan, dan Bontang masih menghadapi peningkatan volume sampah yang tidak sebanding dengan kapasitas pengolahan.

PLTSA dianggap sebagai model yang mampu menyelesaikan dua persoalan sekaligus: penanganan sampah dan penyediaan listrik berbasis energi bersih.

Pemerintah daerah, kata Seno, tidak ingin sekadar menerima teknologi yang ditawarkan, tetapi ingin memastikan bahwa proyek yang dipilih benar-benar sesuai dengan karakteristik sampah di Kaltim.

Berita Lainnya:  Pemerintah Kaltim Menuju Transformasi Ekonomi Tidak Terbaharukan

Karena itu, tim teknis dari Pemprov akan menggelar pembahasan lanjutan bersama seluruh calon investor dalam waktu dekat.

“Besok kita akan mengoordinasikan lagi perkembangan proyek ini. Kita ingin melihat mana yang paling feasible secara teknis dan paling menguntungkan untuk daerah,” ujarnya.

Selain PLTSA, Pemprov Kaltim juga terus menjajaki peluang investasi EBT lain seperti biomassa dan tenaga surya. Meski sawit selama ini menjadi komoditas yang dominan dalam pembicaraan energi, Seno menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin terpaku pada satu sumber saja.

Kaltim, menurutnya, punya potensi untuk mengembangkan berbagai jenis energi alternatif sepanjang teknologi dan skemanya jelas.

Berita Lainnya:  Sekda Kaltim Pimpin Tim Penilai Paritrana Award 2023, Dukung Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

“Investor kini semakin selektif, dan Kaltim juga begitu. Kita tidak hanya mencari siapa yang mau masuk, tapi siapa yang membawa dampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Jika kesepakatan dengan salah satu pengembang PLTSA tercapai, Pemprov menargetkan proses groundbreaking dapat dilakukan pada 2026.

Proyek ini diharapkan menjadi tonggak baru bagi Kaltim dalam memperluas portofolio energi bersih sekaligus memperbaiki tata kelola sampah kota.

Seno optimistis bahwa gelombang investasi EBT yang masuk saat ini merupakan momentum penting untuk memperkuat arah pembangunan daerah.

“Kita ingin Kaltim menjadi wilayah yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi baru demi keberlanjutan,” tutupnya.

Tim redaksi/73/Riska/ADV/Diskominfo/Kaltim

...

Bagikan :

Email
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
[printfriendly]

terkait

.