Angka Stunting Kukar Turun, Dinkes Ingatkan Program Penanganan Tak Boleh Kendur

Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufiddah.

Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufiddah.

PORTALBORNEO.ID, KUTAI KARTANEGARA – Tren penurunan angka stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak membuat pemerintah daerah mengurangi perhatian terhadap program penanganannya. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar tetap mempertahankan berbagai intervensi untuk memastikan capaian tersebut dapat terus dijaga.

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan penanganan stunting masih menjadi salah satu agenda prioritas kesehatan daerah. Selain stunting, pemerintah juga tetap memberikan perhatian terhadap angka kematian ibu serta angka kematian bayi dan balita.

Menurut Ismi, program yang telah menunjukkan hasil positif tetap perlu dipelihara agar tidak terjadi peningkatan kasus di kemudian hari. Karena itu, intervensi kesehatan tetap dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Program prioritas kita masih harus terus dikejar sekaligus dipelihara. Penurunan stunting, angka kematian ibu, serta angka kematian bayi dan balita tetap menjadi perhatian dan prioritas,” kata Ismi, Selasa (06/10/2026).

Dalam penanganan stunting, salah satu intervensi yang dijalankan Dinkes Kukar yakni pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal. Program tersebut telah diterapkan melalui puskesmas untuk menyasar kelompok yang membutuhkan intervensi sesuai kondisi gizinya.

Ismi menjelaskan pemberian makanan tambahan tidak dilakukan secara seragam kepada seluruh penerima. Pada ibu hamil, intervensi diberikan dengan melihat kondisi status gizi, termasuk bagi mereka yang mengalami kekurangan energi kronis.

Sementara pada bayi dan balita, intervensi disesuaikan dengan kondisi masing-masing sasaran, termasuk anak yang mengalami stunting. Penyesuaian tersebut dilakukan agar asupan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan penerima.

“Untuk penanganan stunting memang ada intervensi makanan lokal dan itu sudah berjalan di puskesmas-puskesmas,” sebutnya.

Ia menambahkan, makanan tambahan tersebut disusun dengan memperhatikan kebutuhan gizi penerima. Tenaga gizi di masing-masing fasilitas kesehatan turut menentukan komposisi makanan agar unsur gizi yang diberikan tetap seimbang.

“Intervensinya menggunakan makanan lokal yang disusun oleh tenaga gizi. Komposisinya dibuat seimbang, mulai dari karbohidrat, protein dan kebutuhan lainnya sesuai ukurannya,” terangnya.

Selain pemberian makanan tambahan, Dinkes Kukar juga memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dan kader posyandu melalui pelatihan. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan deteksi serta penanganan masalah gizi dan stunting di tingkat masyarakat.

Dinkes juga menjalin kerja sama dengan sejumlah yayasan untuk mendukung pelaksanaan program. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan petugas dan kader dalam menemukan serta menangani kasus secara lebih cepat.

Ismi menegaskan keberhasilan menurunkan angka stunting tidak berarti program dapat dihentikan. Pemeliharaan intervensi tetap diperlukan agar capaian yang sudah diraih dapat dipertahankan sekaligus mencegah munculnya kembali peningkatan kasus.

“Program ini harus tetap dilakukan secara rutin. Jangan sampai karena angkanya sudah turun kemudian intervensinya dihentikan. Capaian yang sudah ada harus terus kita pelihara,” tutupnya.(Adv/diskominfokukar/Rian)

...

Bagikan :

Email
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
[printfriendly]

terkait

.