Portalborneo.id, TENGGARONG – Pasar Tangga Arung Square di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menyimpan potensi yang besar sebagai salah satu penyumbang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar memperkirakan, apabila seluruh kios yang tersedia beroperasi dan memenuhi kewajiban retribusi, pasar tersebut mampu menghasilkan PAD hingga Rp3 miliar per tahun.
Hal itu dibeberkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disperindag Kukar, Sayid Fathullah. Menurutnya, potensi tersebut dihitung dari total 703 kios yang ada di Pasar Tangga Arung Square. Dengan skema retribusi yang berlaku, nilai tersebut dinilai sangat realistis.
“Kalau 703 kios itu terisi semua, tinggal kita kalikan saja satu kios dikali Rp2.000 per meter persegi dikali luasnya. Angkanya sekitar Rp3 miliaran setahun,” ujar Sayid.
Potensi tersebut jauh melampaui target PAD Disperindag Kukar pada tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp1,35 miliar. Bahkan, jika seluruh kios aktif dan patuh membayar retribusi, capaian PAD dinilai akan sangat aman.
“Target kami tahun ini Rp1,35 miliar. Kalau potensi Rp3 miliaran itu bisa terealisasi, jelas melebihi target,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, pada tahun sebelumnya target PAD Disperindag Kukar hanya sebesar Rp800 juta, namun realisasi justru mencapai Rp1,7 miliar. Capaian tersebut menjadi dasar optimisme pemerintah daerah menaikkan target PAD pada tahun ini hampir dua kali lipat.
“Tahun lalu target Rp800 juta, realisasinya Rp1,7 miliar. Tahun ini target naik jadi Rp1,35 miliar. Naiknya hampir satu dua kali lipat, cukup besar,” katanya.
Meski demikian, Sayid mengakui kondisi Pasar Tangga Arung Square saat ini belum sepenuhnya ideal. Masih banyak kios yang belum beroperasi, sehingga potensi PAD belum tergarap maksimal. Namun, Disperindag Kukar tidak bisa membiarkan kios-kios tersebut kosong terlalu lama.
“Kalau kita biarkan kosong, kami tetap ditagih setoran PAD Rp1,35 miliar. Pemerintah pasti bertanya, mana setoranmu. Di situlah kami harus mencari solusi,” tuturnya.
“Saya mohon maaf kepada para pedagang. Posisi kami serba sulit. Mau dibiarkan, kami ada target. Mau ditagih, pedagang punya alasan karena kondisi belum baik-baik saja,” tambahnya.
Sebagai jalan tengah, Disperindag Kukar pun membuka opsi bagi pedagang yang tidak lagi sanggup beroperasi untuk menyerahkan kembali kiosnya kepada pemerintah daerah. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat hunian kios dengan menggantinya kepada pedagang lain yang lebih siap berusaha.
“Kalau memang pedagangnya legowo dan merasa tidak bisa jualan lagi, monggo silakan diserahkan ke pemerintah. Nanti bisa kami alihkan ke pedagang lain,” tegasnya.
Dengan potensi PAD yang mencapai Rp3 miliar per tahun jika seluruh kios beroperasi, Disperindag Kukar menilai Pasar Tangga Arung Square sebagai aset strategis daerah. Pemerintah daerah pun berharap pasar ini dapat kembali bergairah dan menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus penopang PAD Kukar ke depan.
“Pasar Tangga Arung ini aset besar. Kalau terisi semua dan dikelola secara optimal, kontribusinya terhadap PAD Kukar akan sangat signifikan,” pungkasnya.

