PORTALBORNEO.ID, KUTAI KARTANEGARA – Kepadatan antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM bersubsidi jenis Pertalite masih terjadi di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Kondisi tersebut paling terlihat di Kecamatan Samboja dan Samboja Barat yang berada di kawasan perbatasan sekaligus menjadi jalur penghubung menuju Balikpapan.
Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Burhanuddin, menyebut persoalan antrean BBM subsidi di wilayah tersebut turut dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan masyarakat. Selain itu, pihaknya juga menemukan adanya indikasi pembelian Pertalite dalam jumlah yang dinilai tidak sesuai kewajaran.
“Kalau menyikapi penjualan BBM subsidi di Kukar, memang ada sebagian yang tidak sesuai peruntukannya. Mungkin ada yang mengambil dalam jumlah banyak dan tidak wajar, satu orang bisa sampai ratusan liter,” ucap Burhanuddin, Rabu (07/10/2026).
Menurut Burhanuddin, ketersediaan sarana pengisian BBM di Kukar sebenarnya cukup tersebar. Berdasarkan data yang dimiliki Disperindag, terdapat sekitar 30 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang melayani kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Kukar.
“Sudah ada sekitar 30 SPBU berdasarkan beberapa data yang kami miliki di Kutai Kartanegara,” tuturnya.
Meski demikian, keberadaan puluhan SPBU tersebut belum sepenuhnya menghilangkan persoalan antrean, terutama di kawasan Samboja dan Samboja Barat. Burhanuddin menilai kondisi antrean di Kukar secara keseluruhan masih relatif terkendali apabila dibandingkan dengan Balikpapan.
“Kalau di kita masih relatif terkendali dibandingkan dengan Balikpapan. Samboja dan Samboja Barat memang yang cukup parah, karena berada di jalur Kilometer 38 dan Kilometer 28. Di sana antreannya memang panjang,” ungkapnya.
Ia menilai posisi Samboja Barat sebagai wilayah perbatasan menjadi salah satu faktor yang membuat permintaan Pertalite di kawasan tersebut cukup tinggi. Tidak hanya masyarakat setempat, warga dari wilayah Balikpapan juga disebut ikut memanfaatkan SPBU yang berada di kawasan tersebut untuk memperoleh BBM subsidi.
“Karena kalau di Samboja Barat, daerah perbatasan, banyak orang dari Balikpapan yang datang ke situ untuk mengantre Pertalite,” bebernya.
Burhanuddin kemudian menyoroti perbedaan pola pengendalian pembelian BBM subsidi antara Kukar dengan sejumlah daerah lain. Ia menyebut Samarinda telah menerapkan sistem kupon, sementara Balikpapan melakukan pembatasan pembelian berdasarkan waktu dan jumlah. Sementara di kawasan Samboja Barat, khususnya Kilometer 28 dan Kilometer 38, akses pembelian masih berlangsung tanpa pola pembatasan serupa.
“Itu karena di Balikpapan dibatasi. Kalau di tempat kita, khususnya Samboja Barat di Kilometer 28 dan Kilometer 38, itu kan dibuka terus,” tutupnya.
Dengan kondisi tersebut, persoalan antrean Pertalite di Samboja dan Samboja Barat dinilai tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan SPBU. Pengawasan terhadap penyaluran dan pola pembelian juga menjadi bagian penting agar BBM subsidi dapat diterima masyarakat sesuai dengan peruntukannya.(Adv/diskominfokukar)

