TENGGARONG, Portalborneo.id – Kobaran api yang melanda permukiman padat penduduk di Jalan Danau Aji–Alimuddin, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), telah padam. Namun, bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, persoalan belum selesai. Mereka kini menghadapi kenyataan harus menata kembali kehidupan setelah rumah dan sebagian harta benda dilalap api.
Kebakaran yang terjadi pada Senin (5/10/2026) sore itu menyisakan pekerjaan besar. Bukan hanya membersihkan puing bangunan, tetapi juga memastikan warga terdampak memiliki kebutuhan dasar yang cukup sebelum dapat kembali menjalani kehidupan seperti semula.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengakui besarnya dampak kebakaran tersebut. Ia bahkan menyebut peristiwa itu sebagai salah satu kebakaran terbesar yang pernah terjadi di wilayah Kutai Kartanegara.
“Memang korbannya cukup banyak. Ini termasuk salah satu kebakaran terbesar yang terjadi di Kutai Kartanegara,” kata Aulia saat meninjau posko bantuan dan dapur umum, Kamis (8/10/2026).
Di tengah situasi tersebut, perhatian pemerintah daerah mulai diarahkan pada proses pemulihan. Bantuan kebutuhan pokok menjadi salah satu prioritas, sementara warga masih harus menghadapi ketidakpastian mengenai kondisi tempat tinggal mereka ke depan.
Aulia mengatakan pemerintah daerah berupaya meringankan beban masyarakat dengan melibatkan berbagai pihak. Sejak kebakaran terjadi, bantuan terus berdatangan dari masyarakat, relawan, hingga sejumlah unsur pemerintah.
“Kami dari pemerintah daerah berusaha bagaimana meringankan beban korban yang terdampak kebakaran ini dengan bekerja sama dengan seluruh masyarakat. Alhamdulillah, respons bantuan dari masyarakat sangat luar biasa,” ujarnya.
Namun, pemulihan pascakebakaran tidak cukup hanya dengan menyalurkan bantuan sementara. Warga juga membutuhkan kepastian mengenai langkah berikutnya, terutama untuk kembali memiliki tempat tinggal dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Persoalan tersebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah dalam menangani dampak kebakaran.
Saat mengunjungi lokasi, Aulia tidak hanya memantau aktivitas posko dan dapur umum. Ia juga berbincang langsung dengan sejumlah korban untuk mendengarkan kebutuhan yang mereka hadapi.
Dalam percakapan itu, warga menyampaikan sejumlah kebutuhan mendesak sekaligus harapan agar proses pemulihan dapat segera dilakukan.
“Beberapa korban menyampaikan terkait proses pemulihan yang harus dilakukan dan menyampaikan sejumlah kebutuhan pokok masyarakat saat ini,” kata Aulia.
Bagi warga terdampak, bantuan yang datang menjadi penopang selama masa sulit. Akan tetapi, tantangan berikutnya adalah bagaimana mereka dapat kembali menjalani aktivitas tanpa terus bergantung pada bantuan darurat.
Pemerintah daerah menyatakan akan menyesuaikan penanganan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Meski demikian, rincian tahapan pemulihan, termasuk target waktu pelaksanaan dan bentuk bantuan jangka panjang, belum dijelaskan secara terperinci dalam keterangan Aulia.
Di sisi lain, Aulia mengapresiasi kerja personel pemadam kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, pemerintah kecamatan, dan kelurahan yang sejak awal terlibat dalam penanganan bencana.
“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh personel Damkar, BPBD, seluruh relawan, pemerintah kecamatan, dan teman-teman kelurahan yang sejak awal terjadinya kebakaran sudah turun aktif membantu masyarakat,” ujarnya.
Menurut Aulia, keterlibatan berbagai unsur menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat tidak menghadapi dampak kebakaran seorang diri.
Ia berharap proses pemulihan dapat dipercepat sehingga warga terdampak secara bertahap mampu kembali menjalani kehidupan mereka.
“Kami berharap proses pemulihan pascakebakaran ini bisa dilakukan dengan cepat,” katanya.
Kini, tantangan terbesar bukan lagi memadamkan kobaran api, melainkan memastikan kehidupan warga dapat kembali pulih.
Sebab, bagi mereka yang kehilangan rumah, berakhirnya kebakaran bukan berarti berakhir pula kesulitan. Justru setelah api padam, perjuangan untuk membangun kembali kehidupan baru dimulai.

