Pisang Kaltim Siap Mendunia, Pelabuhan Eskpor Masih Melalui Pulau Jawa

Caption: Kabid Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Kosasih,

Portalborneo.id, Samarinda – Di balik hamparan kebun pisang yang tumbuh subur di Kutai Timur, Kutai Kartanegara, hingga Paser, tersimpan cerita lain tentang potensi besar yang tertahan di pintu keluar. Pisang Kepok Grecek di Kaltim sebenarnya sudah lolos uji kualitas dan menembus pasar luar negeri.

Namun, pencatatannya tidak pernah muncul sebagai ekspor asal Kalimantan Timur. Alasannya sederhana: Kaltim belum punya pelabuhan ekspor.

Kabid Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Kosasih, menyebut bahwa saat ini pengiriman pisang harus melewati pelabuhan-pelabuhan yang ditetapkan pemerintah pusat sebagai gerbang ekspor resmi—mulai dari Tanjung Priok, Tanjung Perak, Bali, Makassar, hingga pelabuhan di Maluku dan NTT.

“Semua transaksi ekspor masih tercatat di Jawa Timur. Kaltim hanya mengirimkan barangnya, tapi nilai ekspor dan PAD dicatat untuk daerah lain,” jelasnya.

Berita Lainnya:  Kaltim Tempati Peringkat 4 Nasional Penerapan Demokrasi di Indonesia

Padahal, produktivitas pisang Kaltim terus meningkat, terutama varietas kepok gereja yang banyak dibudidayakan. Jika pelabuhan ekspor hadir di dalam wilayah sendiri, Kaltim diproyeksikan mampu menambah pendapatan daerah sekaligus mendorong pertumbuhan industri pengolahan berbasis pisang.

Harapan itu kini bergantung pada rencana pengembangan Pelabuhan Buluminung di Penajam Paser Utara, yang berada tidak jauh dari Ibu Kota Nusantara (IKN). Pelabuhan tersebut tengah dikaji bersama Bappenas untuk diproyeksikan sebagai salah satu gerbang logistik kawasan timur Indonesia.

Jika disetujui sebagai pelabuhan ekspor, alurnya berubah total: komoditas hortikultura Kaltim akhirnya bisa diakui sebagai ekspor daerah sendiri.

Berita Lainnya:  Pemanfaatan Dana Desa Menunjang Ketahanan Pangan

“Kalau Buluminung jadi, itu game changer. Komoditas kita tidak lagi numpang pintu ekspor daerah lain,” kata Kosasih.

Namun ekspor bukan satu-satunya arah perjalanan pisang Kaltim. Pemerintah daerah juga melirik peran pisang dalam diversifikasi pangan—terutama untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan berjalan nasional.

Menurut Kosasih, ketergantungan berlebih pada beras membuat ketahanan pangan mudah goyah. Pisang, dengan kandungan karbohidrat yang tinggi, bisa menjadi alternatif yang diperkenalkan secara bertahap kepada masyarakat.

“Tidak harus nasi setiap waktu. Minimal ada momen di mana pangan lokal masuk. Itu realistis, dan beberapa daerah kita memang sudah terbiasa konsumsi pisang,” ujarnya.

Daerah-daerah seperti Kutai Timur, Kukar, dan Paser disebut sebagai “wilayah awal” untuk memperkenalkan pola konsumsi pisang dalam skala lebih besar. Jika berhasil, pola ini bisa meluas ke daerah lain, termasuk daerah penghasil komoditas lain seperti jagung di Berau.

Berita Lainnya:  Pemprov Kaltim Gencarkan Kampanye Pemilu: Optimis Capai 78% Partisipasi Pemilih

Kunci integrasi ini tetap berada pada keputusan pemimpin daerah. “Kalau ada instruksi gubernur, semuanya bisa terintegrasi. MBG, koperasi desa, pangan lokal—itu bisa bergerak bersama,” tambahnya.

Dalam rencana jangka menengah, pisang Kaltim tidak hanya berhenti sebagai buah konsumsi. Industri hilirisasi melalui tepung pisang—yang lebih tahan simpan dan bernilai tinggi—menjadi salah satu target besar dan konsep ketahanan pangan berjalan, Kaltim bisa menjadi pusat produksi pisang yang bukan sekadar memasok kebutuhan nasional, tetapi juga memegang peran di pasar internasional.

Tim Redaksi/26/Riska/ADV/Diskominfo/Kaltim

...

Bagikan :

Email
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
[printfriendly]

terkait

.