Portalborneo.id, Samarinda – Aksi 214 jilid kedua di depan Kantor DPRD Kalimantan Timur, Senin (4/5/2026), tak hanya diwarnai ketegangan, tetapi juga berubah menjadi panggung ekspresi rakyat ditengah tuntutan hak angket, musik menjadi medium perlawanan yang menyatukan suara massa.
Setelah berhasil membuka pagar yang sempat terkunci dari dalam, ratusan hingga ribuan demonstran berkumpul di halaman gedung DPRD Kaltim.
Namun alih-alih ricuh, suasana justru bergeser menjadi ruang kolektif penuh nyanyian dan solidaritas.
Di atas hamparan tikar sederhana, massa dari berbagai latar belakang—petani, nelayan, guru, buruh, hingga mahasiswa—duduk bersama.
Sebuah band sederhana memainkan gitar dan pengeras suara seadanya, mengiringi lagu-lagu kritik sosial.
Lagu pahlawan “Ibu Pertiwi” hingga lagu sindiran kepada Pemerintah cover “iwan Fals” menggema keras, dinyanyikan serempak oleh massa.
Lirik-lirik tajam tentang wakil rakyat yang lupa amanah terasa hidup di tengah situasi politik yang mereka kritik.
“Suara kami mungkin tak didengar di ruang rapat, tapi akan terus menggema di jalanan,” teriak salah satu orator, disambut tepuk tangan dan nyanyian lanjutan dari massa.
Poster-poster kritik pun menjadi latar panggung alami. Salah satunya bergambar Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud dengan tulisan “Dicari Orang Hilang”, berdampingan dengan spanduk “Selamatkan Kaltim”.
Meski sebelumnya aksi diwarnai upaya paksa membuka kawat berduri untuk masuk ke area gedung, sore hingga menjelang malam justru diisi dengan nuansa “nyore” atau bersantai bersama.
Massa berbaur, bernyanyi, dan menyampaikan aspirasi melalui seni musik.
Aksi ini direncanakan akan berlangsung hingga malam hari. Massa memilih bertahan sambil menunggu rapat pembahasan hak angket yang dijadwalkan pukul 19.00 WITA.
Di tengah ketidakpastian politik, musik menjadi bahasa yang paling jujur—mengikat emosi, menyuarakan keresahan, dan menjaga semangat perjuangan tetap menyala.
Orasi demi orasi terus bergantian dengan alunan musik, menjadikan halaman DPRD Kaltim hari ini bukan sekadar lokasi demonstrasi, tetapi juga panggung perlawanan rakyat.
Tim Redaksi

